Sambangi Kahagroup Solokanjeruk, Dansektor 21 Kaget

0
289

Kab. Bandung, — Dansektor 21 Kol Inf Yusep Sudrajat beserta anggota Satgas Subsektor Solokan Jeruk sambangi kawasan industri Kaha Grup, Solokan Jeruk, Kabupaten Bandung, Kamis (4/10).

Ini adalah kali pertama Dansektor 21 menindaklanjuti laporan dari anggotanya yang baru dua minggu bertugas di Solokan Jeruk, sekaligus mengecek sejauh mana pelaku industri di kawasan ini dalam mengelola limbah cair sisa produksi.

Awal memasuki Kawasan Kaha Grup, Dansektor 21 tak menyangka jika di komplek ini terdapat lebih dari 30 pabrik yang sebagian besar memproduksi tekstil. Informasi ini diketahui ketika Hendri selaku Humas Kaha Grup menjelaskan kepada Dansektor 21 sebelum melakukan pengecekan terhadap pabrik di kawasan tersebut.

“Saya baru pertama ke wilayah ini, dan tidak menyangka ada lebih dari 30 pabrik di kawasan ini. Dan dari sekian banyak pabrik ini masih ada pabrik yang mengeluarkan limbah tapi tidak punya ipal,” ujar Yusep.

Sebelum melakukan pengecekan ke beberapa pabrik, Hendri memberikan informasi umum dan menjelaskan kepada Dansektor bahwa sebagai pengelola dan pemilik lahan, tidak semua pabrik yang ada disini milik Kahatex, “sebagian disewakan dan ada juga yang sudah di beli,” ujar Hendri.

Namun terkait tanggung jawab lingkungan, seperti pengelolaan limbah, lanjut Hendri, itu adalah tanggung jawab sepenuhnya manajemen perusahaan masing-masing.

“Dalam salah satu klausul, sebagai pengelola lahan Kaha Grup menekankan kepada perusahaan baik yang sewa ataupun sudah di beli agar meyang ada di kawasan ini memiliki UKL-UPL (upaya pengelolaan lingkungan-upaya pemantauan lingkungan-red),” ungkapnya.

Apalagi sejak program Citarum Harum berjalan, sambung Hendri, Kaha Grup sudah melakukan pemberitahuan kepada pelaku industri yang ada disini, untuk segera menindaklanjuti sesuai tujuan dari program Citarum Harum.

“Kita (pengelola-red) sudah melakukan pertemuan dan menghimbau agar segera menindaklanjuti program citarum,” ujarnya.

Sebagian besar industri yang ada di kawasan ini produksi kain, Sizing atau pengkanjian menggunakan Water Jet Loommaupun AJL (Air Jet Loom), Garment.

Kawasan disini terdapat lebih dari 30 pabrik, namun pihak pengelola lahan tak ada IPAL Komunal, Kaha Grup melalui Hendri mengatakan bahwa gagasan itu sebenarnya sudah pernah disampaikan oleh Dinas LH Kabupaten Bandung, namun kendala yang dihadapi karena kondisi lahan yang tidak memadai, dan lokasi pabrik yang memakai WJL (Water Jet Loom) terpencar-pencar.

“Secara teknis kami tak ada wewenang untuk melakukan pembinaan terkait limbah, selama ini yang kami lakukan bersifat memantau, menghimbau, dan mengingatkan,” tandasnya

Dalam sidak ini Dansektor 21 baru sempat mendatangi 3 pabrik di kawasan ini, yakni PT Dong Heung, PT Hattori Indonesia dan PT Indoriatex Prima.

Elly