Ny. Lala Hartoyo: Jangan Pandang Sebelah Mata Kaum Ibu

0
525

SUMEDANG,- Hari Ibu adalah hari peringatan atau perayaan terhadap peran seorang ibu dalam keluarganya, baik untuk suami, anak-anak, maupun lingkungan sosialnya.

Demikian diungkapkan Ketua Bhayangkari Cabang Sumedang Ny.Lala Hartoyo saat memperingati Hari Ibu ke 90 tahun 2018, di Alun-alun, Sumedang, Sabtu (22/12/2018).

Ny. Lala hadir pada peringatan hari ibu bersama Pengurus Bhayangkari Cabang Sumedang untuk mengikuti kegiatan Upacara Peringatan Hari Ibu ke-90.

Pada kesempatan tersebut, Ny.Lala Hartoyo selaku Ketua Panitia, melaporkan rangkaian kegiatan Upacara Peringatan Hari Ibu ke-90 yang dirangkaikan dengan hari Aids, hari Disabilitas dan hari Kesetiakawanan Sosial kepada Bupati Sumedang.

Ny. Lala kepada patrolicyber.com mengupas sejarah tentang hari ibu. Ia mengungkapkan, kesamaan pandangan untuk mengubah nasib perempuan di Tanah Air membuat berbagai organisasi perempuan yang ada di Sumatera dan Jawa kala itu berkumpul dalam satu tempat.

“Mereka berdiskusi, bertukar pikiran dan menyatukan gagasannya di Dalem Jayadipuran, Yogyakarta. Bermacam gagasan dan pemikiran diungkapkan dalam Kongres Perempuan pada 90 tahun lalu, 22 Desember 1928,” jelasnya.

Selama tiga hari, dari 22 Desember sampai 25 Desember terdapat beberapa isu yang dibicarakan dalam pertemuan bersejarah yang dihadiri 600 orang dari 30 organisasi.

“Isu yang dibahas antara lain pendidikan perempuan bagi anak gadis, perkawinan anak-anak, kawin paksa, permaduan dan perceraian secara sewenang-wenang. Selain itu, kongres juga membahas dan memperjuangkan peran wanita bukan hanya sebagai istri dan pelayan suami saja,” jelas istri AKPB Hartoyo itu.

Berawal dari situlah, tambah dia, persatuan dari beberapa organisasi wanita ini semakin kuat dan akhirnya tergabung dalam organisasi yang lebih besar, yakni Perikatan Perkoempolan Isteri Indonesia (PPII).

“Sampai akhirnya, ketika Kongres ketiga, perkumpulan ini mematangkan dan menyuarakan mengenai pentingnya perempuan dan menetapkan 22 Desember, dimulainya Kongres Perempuan I pada 1928, sebagai Hari Ibu,” katanya.

Disebutkan, Kongres Perempuan Indonesia III yang berlangsung dari 22 sampai 27 Juli 1938 di Bandung menetapkan Hari Ibu diperingati tiap 22 Desember.

Pemilihan tanggal itu untuk mengekalkan sejarah bahwa kesatuan pergerakan perempuan Indonesia dimulai pada 22 Desember 1928. Setiap tahun, peringatan dilakukan untuk menghayati peristiwa bersejarah tersebut.

“Presiden Soekarno kemudian mengeluarkan keputusan presiden untuk menetapkan dukungan atas Kongres Perempuan III. Melalui Keputusan Presiden Nomor 316 tahun 1959 akhirnya Hari Ibu resmi menjadi Hari Nasional,” ujar Ny. Lala.

Penetapan itu disesuaikan dengan kenyataan bahwa Hari Ibu pada hakikatnya merupakan tonggak sejarah perjuangan perempuan sebagai bagian dari perjuangan bangsa yang dijiwai oleh Sumpah Pemuda 1928.

Terakhir, Ny. Lala berharap, peran kaum ibu saat ini tak lagi dipandang sebelah mata. Ibu merupakan sosok terpenting dalam kehidupan.

“Dengan demikian, peringatan hari ibu ini sejatinya membuka mata siapapun untuk menghargai para ibu,” pungkasnya.

Abas

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here