Dana Rehab Diduga Jadi Bancakan, Fungsi Komite Dimandulkan?

1
404

CIAMIS,– Belum lama ini, Dinas Pendidikan Kabupaten Ciamis, Jawa Barat mendapat bantuan Dana Alokasi Khusus (DAK) untuk Sekolah Dasar (SD) senilai Rp92 milyar lebih. DAK tersebut merupakan yang terbesar di Indonesia dibanding daerah lain penerima DAK.

Berkaitan dengan itu, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Ciamis, Wawan S. Arifin berpesan kepada guru, terutama kepala sekolah penerima bantuan DAK agar menjaga amanah tersebut.

“Meski begitu, para guru juga jangan melupakan kewajiban mendidik dan mengajar. Jangan sampai sibuk mengurus urusan rehab sekolah dan melupakan kewajiban mengurus pada siswa,” ungkapnya, belum lama ini.

Wawan kembali menegaskan bahwa DAK itu adalah amanah untuk pendidikan, sekecil apapun pengeluaran harus dipertanggungjawabkan.

“Dan untuk pelaksanaannya ialah swakelola. Libatkanlah masyarakat sekitar sekolah dan belanjalah bahan-bahan di toko sekitar. Jadi sama-sama membantu. Serta, kalau ada masalah agar dikonsultasikan, jangan sok tahu,” tegasnya.

Mendasar pada statemen dan arahan tersebut, jurnalis PATROLI dan TV One, Senin (8/7) mendatangi dua sekolah, yaitu SD 1 Cintaratu dan SD 2 Cintajaya, Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis. Kedua sekolah tersebut dikepalai oleh Maryono.

Kedatangan wartawan disambut Ade Ari dan Asep Eka, guru PNS yang juga mengaku sebagai panitia proyek rehab.

“Mohon maaf Pak Kepsek Maryono (Plt) hari ini tidak ada di sekolah, beliau sedang ada kepentingan lain di wilayah Majenang,” kata Asep Eka.

Asep Eka membenarkan bahwa SD 1 Cintaratu dikepalai Maryono (sebagai Plt) dan depinitifnya di SD 2 Cintajaya. Asep Eka juga membenarkan bahwa SD 1 Cintaratu mendapat bantuan dana rehab sebesar Rp174 juta untuk tiga lokal.

“Adapun dalam pelaksanaan teknisnya, walaupun saya sebagai panitia rehab, saya tidak tahu apa-apa. Untuk lebih jelasnya silahkan temui kepala sekolahnya saja,” ungkapnya.

Asep Eka membenarkan bahwasa untuk pemasangan atap baja ringan diborong oleh orang Banjarsari. “Adapun masalah harganya, saya belum tahu,” aku Asep Eka.

Saat itu, Asep Eka menawarkan, jika diperlukan ketua komite sekolah akan ia panggil. Asep Eka pun berjalan menyusul ke rumah komite.

Tidak lama kemudian, Ketua Komite SD1 Cintaratu yang diketahui bernama Yudi pun datang. Yudi pun membeberkan, bahwa dirinya menjadi Komite di SD 1 Cintaratu sudah puluhan tahun, atau sekitar 15 tahunan. Namun, baru kali ini, oleh Kepsek Maryono dirinya tidak dilibatkan dalam pembangunan rehab ruang kelas.

“Jadi semuanya itu dikelola pihak sekolah, kepsek dan ketua panitia rehab, dari mulai MuU pembelian material seperti kusen hingga baja ringan berikut pemasangan yang katanya dikerjakan oleh orang Banjarsari, jujur saya sampai hari ini belum mengetahuinya, apa lagi tentang harganya,” ungkap Yudi.

Menyoal pemesanan material, sesuai speksifikasi RAB atau tidaknya Eka menyambung bahwa dirinya juga mengaku tidak tahu. “Ya beginilah kondisinya, karena saya bukan sarjana teknik,” katanya.

Kemudian Yudi menimpal, dalam pembanggunan rehab, dirinya hanya sebatas diajak dalam rapat musyawarah saja.

“Kalau bisa masalah ini dimusyawarahkan dulu, jangan dulu diberitakan,” pintanya sembari menawarkan uang kepada jurnalis yang katanya untuk ganti  bensin, sambil komite memanggil nama guru Asep Eka untuk memberikannya.

Di hari yang sama, selepas dari SD 1 Cintaratu, wartawan mendatangi SD 2 Cintajaya yang juga dikepalai Maryono.

Di sekolah ini terpampang papan proyek yang menerangkan telah menerima bantuan dana rehab sebesar Rp174 juta, atau sama dengan SD 1 Cintaratu.

Sehubungan di sekolah hanya ada para pekerja, wartawan pun mencoba menghubungi Ketua Komite Nasirin. Namun yang menerima Sekretaris Komite bernama Wahyu.

Sekretaris komite membeberkan, untuk pembangunan rehab kali ini, dirinya juga mengaku tidak tahu apa-apa.

“Tidak tahu apa-apa soal pembangunan. Saya menjadi komite di  SD 2 Cintajaya baru satu tahun. Untuk lebih detailnya, silahkan jurnalis pertanyakan kepada ketua komite atau kepada kepsek (Maryono). Saya rasa yang lebih tahu segalanya hanya bendahara dan ketua panitia rehabnya,” ucapnya.

Mengenai persoalan ini, Kepala UPTD Lakbok, Asep Didi angkat bicara. Ia menerangkan bahwa fungsi UPTD hanya sebatas pengawasan. Ia juga menegaskan, apa yang disampaikan Ketua Komite SDN 1 Cintaratu, Yudi juga Sekretaris Komite SD 2 Cintajaya Wahyu adalah benar, bahwa dalam pengerjaan proyek rehab ini, para komite tidak dilibatkan.

“Dengan tidak dilibatkannya komite sekolah, itu sama saja kepsek menabrak aturan. Sebagaimana diamanatkan kadisdik, bahwa pengerjaan harus dikerjakan secara swakelola, dengan melibatkan masyarakat setempat, juga beli materialnya dari lingkungan setempat, karena proyek ini untuk keperluan sekolah, bukan ladang untuk mencari keuntungan seperti proyek-proyek lainnya,” beber Asep.

Asep Didi berharap persoalan ini dimusyawarahkan terlebih dahulu dengan para kepsek selaku penanggung jawab anggaran.

“Jjika sudah tidak bisa diperbaiki, ya monggo, terserah kalau mau ditayangkan di Media TV One atau Patroli. Tapi sebelumnya, temui saja dulu kadisdik atau kasi sarpras untuk diminta saran pendapatnya. Sebab, kalau berikan saran sama saya, mungkin sudah tidak lagi digubris,” ujarnya.

“Faktanya, ada satu kepsek yang menantangnya, dengan melontarkan kalimat ; abaikan saja para jurnalis itu memberitakannya, biarkan saya yang urusan dengan kadisdiknya,” ungkap Asep Didi. []

Jaja Hanaedi

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here