Kol. Yusep Sudrajat ; Kelestarian Alam & Lingkungan Menjadi Pondasi Kembangkan Budaya

0
50

BANDUNG – Mewakili Panglima Kodam III Siliwangi Mayjen TNI Tri Soewandono, Kol. Yusep Sudrajat selaku Staf Ahli Sosial Budaya Kodam III/Siliwangi sekaligus Komandan Sektor 21 Citarum Harum menjadi nara sumber pada Seminar Nasional Pemajuan Kebudayaan di Tengah Peradaban Dunia, di Grand Pasundan Bandung, Kamis (15/8-19).

Dalam paparannya, Kol Yusep menyampaikan pentingnya menjaga alam melalui perilaku dan budaya masyarakat mempengaruhi kemajuan peradaban suatu bangsa.
Menurutnya, peradaban bangsa atau manusia dapat tercermin dari perilaku budaya masyarakat dalam memperlakukan alam dan lingkungannya.

“Kelestarian alam dan lingkungan menjadi pondasi dalam mengembangkan potensi nilai budaya dan berdaya saing terhadap peradaban dunia, Kalau alam tidak dijaga, maka kesenian budaya tidak dapat berkembang,” papar Kol. Yusep.

Salahsatu contohnya, kata Kolonel Yusep, sungai Citarum di Jawa Barat yang sejak jaman Kerajaan Pasundan sebagai peradaban dan mampu memberi kehidupan warga Jawa Barat telah menjadi korban.

Ini, katanya pula, seiring berjalannya waktu, Citarum memprihatinkan, kondisinya tidak seperti dahulu. Citarum telah menjadi tempat membuang sampah sembarangan, limbah pabrik pabrik mengalir ke sungai terpanjang di Jawa Barat, kotoran manusia pun mengotori sungai.

Sungai Citarum dahulu merupakan tempat mandi dan mencuci pakaian warga telah tercemar, kotor sekali. Bahkan telah mendapat julukan sungai terkotor di dunia.

Namun Presiden Jokowi perhatian sekali sehingga keluar Perpres No. 15 tahun 2018 untuk mengembalikan ekosistem Citarum sehingga diupayakan Citarum menjadi harum. Sosialisasi pun terus bergulir di masyarakat dan banyak pabrik yang memperbaiki IPALnya demi suksesnya Citarum Harum. Masyarakat pun telah menyadari pentingnya program Citarum Harum.

Ketua Komite Musik Dewan Kesenian Kota Bandung, Jaelani yang turut hadir pada acara tersebut berharap ada upaya-upaya membangkitkan kembali momen-momen penting dalam konteks kebudayaan dan lingkungan serta budaya Sunda yang mengelola “sirah cai” bukan hanya upacara saja melainkan harus benar-benar terlaksana kan dengan baik.

Ia memberi contoh masyarakat Ciptagelar yang setia pada tradisi dengan memelihara ciptaan Yang Maha Kuasa, mereka tidak kekurangan pangan, air yang jernih dan ngocor terus.

“Saya setuju dengan sikap pak Kolonel Yusep kalau perlu tindak tegas pabrik yang melanggar karena sudah jelas dasar hukumnya, Perpres No. 15 Thn 2018”, tegas Jaelani.*

Elly

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here