Organ Tunggal Kota Pagaralam Bisa Apa?

0
15058

PAGARALAM,– Sebelumnya, sepanjang jalan Kota Pagaralam, mata kita akan banyak membaca billboard jasa Organ Tunggal (OrTu) milik warga, ibarat jamur di musim hujan. Apalagi jika menjelang malam, billboard itu gemerlap dihiasi berbagai aksesoris lampu warna-warni. Seolah ini telah menjadi profesi permanen warga di luar sebagai petani kopi atau pemilik guesthouse, atau pemilik kedai cinderamata. Bisa ya, bisa tidak?

Namun, belakangan ini, beberapa billboard di antaranya mulai tampak lusuh, seolah tanpa nyawa. Apakah ini ada kaitan dengan adanya pelarangan pentas OrTu yang diterapkan Pemkot Pagaralam, Sumatera Selatan?

“Pastinya ada pengaruhnya, karena umumnya Si Penyewa atau yang punya hajat acara hiburan OrTu itu dilepas magrib lebih meriah. Masalah kemudian ada yang mabuk-mabuk itu juga oknum, tidak bisa diklaim bahwa OrTu identik dengan mabuk atau rusuh. Saya dan teman-teman pasrah saja kalau sudah begini. Selain membatasi jam harus ada alternatif pengganti yang lebih baik dan bijaksanalah,” kata Seno (37 tahun), salah seorang owner OrTu saat ditemui di kedai kopi sisi selatan Kota Pagaralam.

Yang jelas, ada yang kemudian hilang diantara dinginnya malam Kota Pagaralam, setelah Pemerintah Kota (Pemkot) Pagaralam resmi mengeluarkan larangan hiburan OrTu pada malam hari. Dalam arti OrTu hanya boleh manggung mulai pukul 06.00-17.00 Wib, indoor atau outdoor.

Kebijakan ini merupakan penegasan dari Peraturan Walikota (Perwakot) Nomor 30 tahun 2016, tentang penyelenggaraan perayaan yang menggunakan alat musik elektronik.

Keputusan ini berdasarkan hasil rapat yang diadakan di ruang rapat Besemah I Setdako Pagaralam, Selasa (17/9/2019) lalu, dihadiri  Wali Kota Alpian Maskoni , Wakil Wali Kota Muhammad Fadli, Kapolres AKBP Tri Saksono Puspo Aji, Pabung 0405 wilayah Pagar Alam, Wakil Ketua DPRD, Pj Sekda, Asisten, Staf Ahli, Kepala SKPD, camat, Ketua MUI, Ketua Baznas Pagar Alam, FKUB, tokoh agama dan tokoh masyarakat.

Kebijakan ini dilakukan salah-satunya dalam mendukung program penyalahgunaan narkoba dan menekan tingkat kriminalitas di Kota Pagaralam. Rencaba kedepan hal ini akan dituangkan dalam Perwakot, kemudian akan dibuat menjadi Peraturan Daerah (Perda).

“Maaf saya tidak mau jawab,” kata Seno saat ditanya berapa kerugian yang ditimbulkan jika hal ini diterapkan.

Seno lantas pamit meninggalkan kedai kopi dan meminta fotonya dihapus. Ada apa dengan Seno? (Papa Rief/Foto Repro)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here