Film Above The Drowning Sea: Kisah Yahudi, Tionghoa, Hitler & Toleransi Agama

0
109

JAKARTA,– Film Above The Drowning Sea sebetulnya film dokumenter yang alur ceriteranya sangat sederhana saja. Kalau pun realita aslinya begitu menyedihkan, mungkin menyakitkan bagi mereka pewaris kekejaman Nazi-Hitler.

Diceritakan, pasca pengusiran warga Jude (Jahudi) oleh Nazi  di Vienna (Wina) Austria, lebih dari 170.000 orang Jude menyebar ke negara lain untuk mengungsi, meneruskan hidup, selain ke dominika juga ke Kota Shanghai, Tiongkok (China).

Kalau pun saat itu Kota Shanghai tengah dilanda perang saudara juga invasi Jepang yang mengerahkan sekitar satu juta  pasukan, Shanghai menjadi neraka bagi warganya. Kemiskinan, pengemis dengan borok ditubuh, bangkai bayi dan orang tua jompo yang menyatu dengan kotoran babi menjadi hal biasa ditemui di sana.

Kehancuran ekonomi, peradaban, sosial, moral dan budaya demikian parah. Namun para Jude itu tetap mendapat tempat meneruskan hidup di sana. Sayang tidak terdata berapa ribu orang Jude lain yang mati saat  berlayar dilaut lepas Austria-Tiongkok sejauh lebih dari 8.900 km, apalagi  mereka banyak  menggunakan kapal laut sederhana yang berminggu-minggu, minim makanan, air, obat dan sebagainya.

Penduduk Kota Vienna saat itu sekitar 1,9 juta orang, dan 170.000 orang diantaranya adalah para Jude dan 80.000 lainnya adalah Yahudi Kristen, Kristen dan mualaf.

Sedikit menambahkan, sebelum Nazi invasi sejak tanggal 11 Maret 1938, Austria berpenduduk lebih dari 6,740  juta, tahun 1939 tersisa 6,652 juta orang. Berarti berkurang sekitar 88.000 orang penduduk, apakah ini sudah terhitung para Jude yang mengungsi atau tewas karena kekejaman Nazi?

Di film itu, saat Nazi masuk Vienna (11/3/1937), derita para Jude demikian menyakitkan. Mereka dipaksa menyapu dan mengepel jalan-jalan kota. Kekerasan kepada perempuan dan usia anak,  toko dan rumah pun banyak dihancurkan yang sebelumnya diberi tanda bintang Daud atau tulisan ‘Jude’ oleh Nazi.

Antara realita dan film, yang jelas ribuan para Jude bisa keluar dari Austria karena peran penting seorang Tionghoa bernama Ho Feng-Shan, seorang diplomat Tionghoa di Vienna.

Setelah Ho meninggal tahun 1977 di San Francisco AS, aksi patriotiknya ini dihargai dunia melalui organisasi Israel Yad Vashem pada tahun 2000 dengan memberikannya gelar “Righteous among the Nations”. Tidak tahu apakah Ho juga mendapat hadiah Nobel untuk jasanya?

Film ini memang dokumenter, karena ditampilkan para pewaris True-story termasuk kehadiran tokoh Vera Sasson (pewaris pengungsi keluarga Jude Austria) dan tokoh Zhou Huizhen (pewaris keluarga Tionghoa Shanghai).

Ho Feng-Shan yang Tionghoa ini dilain sumber diceritakan adalah anak yatim yang pekerja keras dan cerdas. Ia lulusan Universitas Munich, Jerman tahun 1926 dan mendapatkan gelar dokterandesnya dalam bidang ekonomi politik pada 1932. Sejak 1935, Ho menjadi diplomatik pada Kementerian Luar Negeri Republik China. Tahun 1937  ia menjabat sebagai Sekretaris Pertama di legasi Tiongkok di Vienna, Austria. Ho menjadi kontroversi saat Austria diinvasi Nazi  tahun 1938. Jabatan Ho pun menjadi Konsul-Jenderal.

Hatinya tergerak saat lebih dari 170.000 Jude di Austria menderita akibat Naziisme Hitler. Ho mempertaruhkan karirnya dengan mengeluarkan surat izin imigrasi/visa sebanyak-banyaknya untuk para Jude yang ingin ke Shanghai. Ho pun dicerca dunia yang pro-invasi, apalagi setelah dia berani menolak isi  Konferensi Evian 1938 yang disepakati  31 negara, antara lain AS, Kanada, Australia,  Selandia Baru dan sebagainya, yang menolak menerima para pengungsi Jude, kecuali Dominika yang memberikan visa lebih dari 100, 000 Jude. Karena ini, Shanghai dan dominika pun dimusuhi sekutu Nazi.

Para Jude lain yang tinggal di Jerman tentunya lebih parah dan menyakitkan, dan yang tersisa karena lolos dari pembantaian Nazi itu pun mengungsi ke Shanghai dan Dominika.

Ho, dalam 3 bulan pertama telah mengeluarkan lebih dari 1200 visa untuk para Jude ke Shanghai, yang pada waktu itu berada dibawah kekuasaan Republik China, yang juga sedang repot karena perang saudara (pemerintah dan komunis) dan perang menghadapi Jepang dengan perlengkapan perang dahsyatnya. Shanghai benar benar porak poranda.

Ho bagi para Jude ibarat malaikat, dan Film  ‘Above the Drowning Sea’ telah banyak mewariskan dan mengajarkan bagaimana toleransi adalah  Rahmat Tuhan, yang demikian indah dilakukan sepanjang masa oleh siapapun, etnis apapun, bangsa apapun, dan agama apapun.

Zhou, adalah saksi mata, pewaris tuan rumah Shanghai. Yang juga mungkin mewakili ratusan ribu etnis Tionghoa Shanghai yang menerima kehadiran para Jude disana. Dia anak dari penarik becak yang mengantar pulang pergi sekolah Vera. Orang tua Vera demikian ramah dan terbuka sehingga  menganggap keluarga Zhou sebagai keluarga, sendiri kalau pun beda etnis, beda bangsa dan beda keyakinan.

Vera dan Zhou adalah ceritera nyata untuk itu, potongan-potongan dokumenter original  yang disisipkan plus  wawancara-wawancara dengan beberapa pengungsi yang masih hidup dan penduduk Shanghai yang berteman dengan mereka, serta keturunan para pengungsi membuat added-value film ini.

Vera dan Zhou akhirnya dapat dipertemukan kembali setelah 68 tahun lamanya terpisahkan. Vera dan orang-tuanya pindah ke USA sekitar tahun 1947, dan sejak itulah mereka lost-contact. Dan, saat lampu ruangan teater menyala terang, Anda baru sadar jika  film ini telah selesai.

Above The Drowning Sea ini dirilis tanggal 26 September 2017 (New York), Sutradara: René Balcer, Nicola Zavaglia, Produser: Nicola Zavaglia. Skenario: René Balcer, Nicola Zavaglia. Produser eksekutif: René Balcer, Cheng Davis.

Atasnama manajemen Patrolicyber, kami ucapkan terima-kasih atas pelayanan baik dari  Monique Rijkers – Inisiator acara ‘4 Tahun Tolerance Festival Film’ ini & Intitute Francais Indonesia (IFI). (PpRief)