Ini Sebaran Status Covid-19 Tiap Daerah di Jawa Barat

0
59

BANDUNG, — Ketua Pelaksana Komite Kebijakan Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Daerah Provinsi Jabar, mengatakan dari data periode 2-8 November 2020, terdapat tiga daerah Zona Merah (Risiko Tinggi) di Jabar.
Dimana Zona Risiko Tinggi di Jawa Barat ada tiga kabupaten/kota, yaitu Kota Bekasi, Kabupaten Bekasi, dan Kabupaten Karawang.

Zona Oranye (Risiko Sedang) ada 17 kabupaten/kota yaitu Kabupaten Bogor, Sukabumi, Bandung, Tasikmalaya, Ciamis, Kuningan, Cirebon, Majalengka, Subang, Purwakarta, Bandung Barat, Pangandaran, serta Kota Bogor, Bandung, Cirebon, Depok, dan Cimahi.

Sementara untuk Zona Kuning (Risiko Rendah) ada tujuh kabupaten/kota yaitu Kabupaten Cianjur, Garut, Sumedang, Indramayu, serta Kota Sukabumi, Tasikmalaya, dan Banjar.

Menurutnya, ada enam kategori KPI (Key Performance Indicators) alias rapor yang diberikan kepada Satuan Tugas (Satgas) Penanganan COVID-19 masing-masing daerah di Jabar, yakni test, trace, treatment, prevention, governance, dan results.

Untuk kategori test, daerah terbaik antara lain Kota Bekasi, Kota Cirebon, dan Kota Bogor. Dasar perhitungan dari variabel kategori ini di antaranya 1.000 tes metode Polymerase Chain Reaction (PCR) per 1 juta penduduk per minggu dan 80 persen fasilitas pelayanan kesehatan mampu melakukan pengambilan spesimen swab test.

Setiawan menuturkan, tingkat kesembuhan (case recovery rate) di Jabar naik dalam dua pekan terakhir.”Kami saat ini tengah melakukan konfirmasi terhadap data-data (tingkat kesembuhan tiap daerah). Jadi apakah data ini sudah semuanya, karena kami yakin sebetulnya tingkat kesembuhan di Jawa Barat ini seharusnya lebih dari data yang saat ini kami dapatkan,” ucap Setiawan.

Terkait swab test metode PCR di Jabar, telah dilakukan 564.007 tes berdasarkan data Pusat Informasi dan Koordinasi COVID-19 Jabar (Pikobar) per Senin 9 November 2020 pukul 14:00 WIB.

Setiawan menegaskan, Jabar juga terus berupaya meningkatkan kapasitas testing metode PCR setiap minggunya. “Sehingga kami bisa memastikan bahwa Jabar ini risikonya seperti apa,” ujarnya.*