BANDUNG,- Sebagai bentuk perlawanan simbolis terhadap terus maraknya konversi lahan hijau menjadi kawasan terbangun di wilayah Bandung Raya.
Komunitas Siwarloka bersama Bumi Sora dan The Lodge Maribaya menegaskan komitmen bersama untuk melindungi ekosistem Cekungan Bandung melalui pergelaran seni dan budaya Green Folk Harmony “Sunda Nata Alam”.
Rahman Fauzi, Founder Bumi Sora menilai dalam dua dekade terakhir, lebih dari 40% kawasan resapan air dan ruang terbuka hijau di wilayah Bandung Raya telah berubah menjadi permukiman, kawasan industri, dan infrastruktur komersial.
Kondisi ini memperparah masalah banjir, kekeringan, dan penurunan kualitas udara yang dirasakan langsung oleh warga.
Sementara itu, masyarakat adat dan komunitas petani lokal kehilangan tanah leluhur mereka yang selama ini menjadi penopang kehidupan dan identitas budaya.
“Bumi Sora lahir dari keresahan mendalam melihat lahan-lahan produktif di Cekungan Bandung terus tergusur oleh kepentingan pembangunan yang tidak berpihak pada keberlanjutan.
‘Melalui Green Folk Harmony, kami ingin membuktikan bahwa seni dan budaya bisa menjadi kekuatan nyata untuk membela tanah dan kehidupan masyarakat lokal,” ujar Rahman Fauzi.
Sementara menurut Dhean Salvez, Co-Founder Bumi Sora. pembabatan lahan besar besaran di pangalengan seluas 214 ha danbersamaan dengan itu terjadi masif di cekungan bandung.
“Bumi Sora berkomitmen untuk terus membangun ekosistem kolaboratif antara komunitas, seniman, dan generasi muda agar suara mereka didengar oleh para pengambil kebijakan,” ujar Dhean.
Menurut Dhean, Green Folk Harmony, sebuah inisiatif seni dan pelestarian alam yang diorganisir oleh Siwarloka bersama Bumi Sora dan didukung oleh The Lodge Maribaya, hari ini secara resmi memperkenalkan program “Sunda Nata Alam” sebagai respons nyata terhadap ancaman alih fungsi lahan yang kian mengkhawatirkan di Cekungan Bandung.
“Inisiatif ini hadir sebagai ruang ekspresi budaya sekaligus platform advokasi lingkungan yang mengedepankan kearifan lokal Sunda dalam upaya menjaga keseimbangan alam.
Cekungan Bandung saat ini menghadapi tekanan konversi lahan yang sangat masif,”kata Dhean.
Dukungan Anggota DPRD
Sementara itu, Yadi Supriadi, Anggota DPRD Kabupaten Bandung yang hadir mendukung kegiatan tersebut menuturkan, nelalui tema “Sunda Nata Alam” yang bermakna Sunda Menata Alam. Program ini memadukan pertunjukan seni tradisi, diskusi komunitas, dan aksi lingkungan nyata untuk membangun kesadaran kolektif tentang pentingnya menjaga fungsi ekologis Cekungan Bandung.
Program dirancang atas tiga pilar: revitalisasi pengetahuan ekologi lokal, kampanye publik atas dampak alih fungsi lahan, dan advokasi kebijakan perlindungan kawasan resapan air serta lahan pertanian.
“Sebagai wakil rakyat Kabupaten Bandung, saya sangat mendukung gerakan ini. Regulasi perlindungan lahan pertanian abadi sudah ada, namun implementasinya masih lemah di lapangan.
“Green Folk Harmony menghadirkan tekanan moral yang penting bagi kami di legislatif untuk lebih serius mendorong pemerintah daerah melindungi lahan-lahan kritis di Cekungan Bandung,” ujar Yadi Supriadi.
“Alih fungsi lahan bukan hanya soal hilangnya pohon atau sawah, tetapi hilangnya identitas dan kedaulatan pangan masyarakat Sunda,”tambahnya.
Senada dengan Yadi, DR. Rm Imam Tunggara, Anggota DPRD Kabupaten Bandung Barat yang turut hadir dan memberikan pernyataan komitmen untuk mendorong penguatan peraturan daerah tentang tata ruang dan perlindungan kawasan lindung di wilayah Bandung Barat, yang menjadi salah satu daerah penyangga utama Cekungan Bandung.
“Cekungan Bandung adalah warisan alam yang tidak ternilai. DPRD Kabupaten Bandung Barat berkomitmen untuk mengawal setiap regulasi yang memastikan bahwa pembangunan di wilayah ini tidak mengorbankan fungsi ekologis yang sudah terbentuk selama ribuan tahun.
“Inisiatif seperti Green Folk Harmony adalah mitra strategis kami dalam membangun kesadaran publik yang solid,” ujar DR. Rm Imam Tunggara.
Dukungan Pihak Swasta
Ditempat yang sama Heni Smith, Owner The Lodge Maribaya The Lodge Maribaya berdiri di atas keyakinan bahwa alam adalah aset terbesar yang harus dijaga, bukan dieksploitasi.
“Kami bangga menjadi tuan rumah Green Folk Harmony karena ini adalah bentuk nyata dari filosofi Escape to Nature yang kami percayai: ketika manusia kembali ke alam, mereka akan lebih peduli untuk melindunginya,” ujar Heni Smith.
Sementara itu, Ketua pelaksana Green Folk Harmony, Nabil Jabar, menegaskan, bahwa Green Folk Harmony bukan sekadar acara seni, melainkan sebuah gerakan yang berangkat dari kegelisahan nyata generasi muda terhadap masa depan lingkungan di Cekungan Bandung.
“Green Folk Harmony adalah manifestasi dari kepedulian kami sebagai generasi muda yang akan mewarisi Cekungan Bandung ini. Kami tidak ingin mewarisi banjir, kekeringan, dan lahan gundul. Kami ingin mewarisi alam yang sehat, budaya yang hidup, dan komunitas yang berdaya. Ini bukan hanya acara, ini adalah deklarasi generasi,” ujar Nabil.
DR Kunkurat, M.Si., Dekan Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik Universitas Pasundan yang juga turut hadir memberikan dukungannya menyatakan, Fakultas Fisip Unpas Hadir untuk memastikan mahasiswa
fisip unpas terlibat dalam solidaritas akademik dengan masyarakat yang kehilangan tanahnya dan sebagai suara kritis yang harus terus di rawat terutama untuk menuntut kebijakan yang
lebih adil.
“Mahasiswa FISIP Unpas tidak bisa tinggal diam melihat kerusakan lingkungan yang terjadi di
depan mata kita. Alih fungsi lahan di Cekungan Bandung adalah masalah sosial dan politik, bukan hanya masalah lingkungan,” ungkapnya.
Sebagai puncak rangkaian acara, Green Folk Harmony akan menghadirkan forum terbuka yang mempertemukan komunitas lokal, akademisi, dan perwakilan pemerintah daerah untuk merumuskan rekomendasi kebijakan perlindungan lahan di Cekungan Bandung.
Hasil forum ini akan disusun dalam bentuk deklarasi bersama yang diserahkan kepada Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan Kementerian Agraria dan Tata Ruang/BPN sebagai masukan substantif dari masyarakat sipil.**












