KARAWANG,– Desa Ciwulan, Kecamatan Telagasari, Kabupaten Karawan memiliki potensi pertanian yang sangat besar, dimana 90% dari area desa adalah persawahan.
Untuk memaksimalkan hasil produksi pertanian, Angga Ramda Ramadhan, mahasiswa dari Teknik Informatika mengembangkan aplikasi “BRINJI” dengan menggunakan algoritma Convolutional Neural Nework (CNN), dengan metode Software Development Life Cycle (SDLC) Extreme Programming (XP).
Dataset yang digunakan dalam pengembangan aplikasi ini didapat dari website Kaggle dengan nama “Rice Plant Dataset”.
“Aplikasi BRINJI adalah aplikasi yang dibuat untuk mengklasifikasikan Kesehatan citra bulir padi, manfaat dari aplikasi ini yaitu berguna untuk membantu petani dalam mengenali citra bulir padi yang sehat dan tidak sehat,” jelas Angga, di Desa Ciwulan, Selasa (8/8/2023).
Selain itu juga dapat membantu memaksimalkan hasil produksi panen.yang dapat secara langsung mengklasifikasikan, dimana akurasi yang didapat pada aplikasi cukup baik sebesar 86% pada data validasi.
Sementara, Arif Rahman Hakim, mahasiswa dari program studi Teknik industri melaksanakan program kerja untuk menyelesaikan masalah penumpukan limbah sekam.
“Limbah sekam yang ada selama ini belum dimanfaatkan oleh Masyarakat Desa Ciwulan dengan baik, hanya dibakar, ditumpuk ataupun ada yang sebagian dijual. Melihat hal tersebut, untuk membuat sekam lebih memiliki nilai ekonomis adalah dengan membuat alat pembakar sekam sebagai upaya memanfaatkan limbah sekam sebagai bahan dalam pembuatan arang sekam,” jelas Arif.
Ia mengatakan, pemanfaatan limbah sekam juga telah dibuat dan terbukti efektif dalam mengurangi limbah hasil panen dan kedapannya dapat menjadi pengganti produk arang konvensional.
“Hasil uji briket sekam padi juga menunjukan bahwa kualitas kekuatan arang cukup kuat karena dapat bertahan bila dijatuhkan di ketinggian 3 meter tanpa adanya kerusakan dan membutuhkan waktu 1-2 menit untuk bara api muncul,” katanya.
Dilihat dari segi nilai jual yang dimiliki oleh biket sekam padi di pasaran, memungkinkan nantinya akan membuka sektor usaha baru khususnya di Desa Ciwulan.
“Semula sekam yang hanya bernilai jual Rp4.000-Rp10.000 per 50 kg, kini dengan adanya penambahan nilai dengan mengubah sekam menjadi briket sekam padi menjadi Rp10.000-Rp25.000 per 1 kg,” ungkap Arif.
Pengabdian kepada masyarakat melalui program KKN ini mendapatkan apresiasi dari Kepala Desa Ciwulan Warkat Subrata yang disampaikan kepada Dosen Pembimbing Lapangan, Ery Rosmawati, SE., MM.
“Semoga segala bantuan ini bermanfaat dan bisa dimaksimalkan pengelolaanya oleh desa khususnya untuk masyarakat yang membutuhkan serta untuk pedagang kecil yang selama ini memanfaatkan arang untuk kegiatan sehari harinya,” kata Warkat. ***












