PANGANDARAN, – Ketua DPRD Kabupaten Pangandaran, Asep Noordin, menyoroti pelaksanaan Pangandaran Icon Carnival 2026 yang digelar pada Senin (19/10/2026). Ia mengingatkan agar perhelatan tahunan tersebut tidak kehilangan ruh utamanya sebagai sarana pelestarian seni dan budaya daerah.
Menurut Asep, Pangandaran Icon Carnival semestinya menjadi panggung untuk memperkuat identitas tradisi Pasundan sekaligus menampilkan kekhasan budaya Kabupaten Pangandaran. Karena itu, ia berharap konsep dan penampilan dalam karnaval lebih mengedepankan kekayaan budaya lokal daripada mengadopsi budaya asing yang tidak mencerminkan karakter daerah.
“Karnaval ini merupakan sarana strategis untuk memperlihatkan keanekaragaman warisan budaya lokal kepada publik secara luas,” kata Asep, Senin (19/10/2026).
Ia juga mendorong seluruh desa yang berpartisipasi dalam Pangandaran Icon Carnival 2026 agar memanfaatkan momentum tersebut untuk memperkenalkan keunggulan, potensi, dan karakter wilayah masing-masing.
Langkah itu, menurutnya, sejalan dengan arah Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) yang menerapkan prinsip One Village One Product atau satu desa satu produk unggulan.
Pangandaran memiliki keberagaman potensi desa, mulai dari kawasan pesisir, pertanian, seni budaya, hingga destinasi wisata. Kekayaan tersebut dinilai dapat menjadi daya tarik tersendiri apabila dikemas secara kreatif dalam pertunjukan karnaval.
Asep menilai, kreativitas peserta dalam menampilkan seni, patung, maupun maskot khas desa dapat membantu memperkuat citra wilayah sekaligus menjadi daya tarik bagi wisatawan.
Namun, di balik kemeriahan acara, Asep menyayangkan masih adanya penampilan yang dinilai kurang mencerminkan kebudayaan asli Pangandaran. Ia menilai hal itu menunjukkan bahwa sebagian peserta maupun pejabat yang terlibat perlu lebih memahami makna dan tujuan penyelenggaraan karnaval tersebut.
Menurutnya, Pangandaran Icon Carnival bukan sekadar parade untuk memeriahkan hari jadi daerah, melainkan juga momentum untuk menunjukkan jati diri masyarakat melalui seni, tradisi, dan kearifan lokal.
Asep juga mengingatkan agar penyelenggaraan Pangandaran Icon Carnival 2026 dilakukan secara bersahaja. Ia berharap peserta tidak terjebak pada kemewahan maupun penggunaan busana dengan biaya tinggi, tetapi lebih mengutamakan kreativitas dan nilai budaya yang ditampilkan.
Terlebih, masyarakat Pangandaran tengah menghadapi kondisi kemarau. Karena itu, perayaan daerah diharapkan tetap memperhatikan kondisi sosial masyarakat serta tidak berlebihan dalam penggunaan anggaran.
Asep berharap Pangandaran Icon Carnival ke depan semakin kuat menjadi ruang pelestarian budaya, promosi potensi desa, dan penguatan identitas daerah. Dengan demikian, kemeriahan perayaan tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga memberikan nilai edukasi dan manfaat bagi masyarakat serta pariwisata Pangandaran. (SP)










