TANAH BUMBU, – Suasana pesisir Pantai Pagatan, Kecamatan Kusan Hilir, Kabupaten Tanah Bumbu, tampak semarak pada Minggu (26/04/2026). Puluhan kapal nelayan yang dihias dengan beragam ornamen warna-warni memadati dermaga, menandai puncak pelaksanaan tradisi Mappanre Ri Tasi’e dalam rangka Hari Ulang Tahun (HUT) ke-23 Kabupaten Tanah Bumbu.
Tradisi budaya yang sarat nilai spiritual dan kearifan lokal ini menjadi daya tarik utama dalam perayaan hari jadi daerah. Para nelayan bersama masyarakat setempat tampak antusias mengikuti rangkaian prosesi yang telah diwariskan secara turun-temurun tersebut.
Prosesi inti diawali dengan keberangkatan rombongan tokoh adat dan pejabat daerah menuju tengah laut Pagatan. Rombongan dipimpin oleh Sandro (pemuka adat) serta Ketua Lembaga Ade Ogi, Fawaisah Mahabatan. Turut hadir dalam rombongan tersebut Sekretaris Daerah Tanah Bumbu, Yulian Herawati, Staf Ahli Gubernur Kalimantan Selatan, Wakil Ketua I DPRD Tanah Bumbu H. Hasanuddin, hingga anggota DPR RI H. Sudian Noor.
Setibanya di titik prosesi, ritual Mappanre Ri Tasi’e dipimpin langsung oleh Sandro. Prosesi berlangsung khidmat melalui rangkaian doa dan ritual adat sebagai ungkapan rasa syukur masyarakat atas limpahan rezeki dari laut. Tradisi ini menjadi simbol hubungan harmonis antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.
Sekretaris Daerah Tanah Bumbu, Yulian Herawati, menyampaikan bahwa pelaksanaan Mappanre Ri Tasi’e tahun ini terasa lebih meriah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Hal tersebut tidak terlepas dari dukungan penuh pemerintah daerah, khususnya dalam pengembangan sektor pariwisata berbasis budaya.
“Pelaksanaan tahun ini lebih meriah karena adanya dukungan dari pemerintah daerah, terutama Bupati yang sangat konsen dalam mendorong peningkatan pariwisata,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa tradisi Mappanre Ri Tasi’e merupakan warisan budaya yang telah ada jauh sebelum terbentuknya Kabupaten Tanah Bumbu. Oleh karena itu, pelestariannya menjadi tanggung jawab bersama agar tetap lestari di tengah perkembangan zaman.
“Kami berharap kegiatan ini dapat terus dilaksanakan setiap tahun dan mendapatkan dukungan tidak hanya dari pemerintah daerah, tetapi juga dari pemerintah provinsi hingga pusat,” tambahnya.
Lebih lanjut, Pemerintah Kabupaten Tanah Bumbu berencana menetapkan tanggal 26 April sebagai puncak perayaan Mappanre Ri Tasi’e. Langkah ini diharapkan dapat memperkuat upaya pengusulan tradisi tersebut agar masuk dalam kalender event nasional, sehingga semakin dikenal luas dan mampu menarik wisatawan dari berbagai daerah.
Sementara itu, Ketua Lembaga Ade Ogi, Fawaisah Mahabatan, menjelaskan bahwa rangkaian kegiatan Mappanre Ri Tasi’e sebenarnya telah dimulai sejak 12 April 2026. Berbagai kegiatan dan perlombaan digelar untuk melibatkan seluruh lapisan masyarakat lintas etnis di Kabupaten Tanah Bumbu.
“Sedikitnya ada 13 jenis lomba yang kami selenggarakan, di antaranya lomba bece-bece, lomba tenun tradisional, balap perahu, dan berbagai kegiatan budaya lainnya,” jelasnya.
Menurut Fawaisah, puncak tradisi Mappanre Ri Tasi’e memiliki makna mendalam sebagai simbol rasa syukur masyarakat pesisir, khususnya para nelayan, atas hasil laut yang melimpah. Tradisi ini juga menjadi bentuk penghormatan terhadap alam yang telah memberikan sumber kehidupan.
“Ini adalah warisan budaya yang harus terus dijaga. Tradisi ini sudah ada jauh sebelum Tanah Bumbu terbentuk, bahkan telah diwariskan hingga generasi ke-7 dan ke-8 Sandro yang melaksanakannya hari ini,” ungkapnya.
Ia juga menambahkan bahwa pada pelaksanaan tahun mendatang, panitia berencana menambah rangkaian kegiatan keagamaan berupa tausyiah yang akan digelar di Masjid Apung sebagai bagian dari penguatan nilai spiritual dalam tradisi tersebut.
Pemerintah daerah sendiri terus berupaya mengemas Mappanre Ri Tasi’e sebagai agenda unggulan budaya dan pariwisata dalam peringatan Hari Jadi Tanah Bumbu. Diharapkan, kegiatan ini tidak hanya menjadi sarana pelestarian budaya, tetapi juga mampu meningkatkan kunjungan wisatawan serta mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat lokal. (Ag)











