• Pedoman Media Siber
  • Redaksi
Patroli Cyber
Advertisement
  • Home
  • Ekonomi
  • TNI-Polri
  • Hukum
  • Nasional
    • Regional
  • Olahraga
  • Politik
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • PARLEMEN
  • Kronik
No Result
View All Result
  • Home
  • Ekonomi
  • TNI-Polri
  • Hukum
  • Nasional
    • Regional
  • Olahraga
  • Politik
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • PARLEMEN
  • Kronik
No Result
View All Result
Patroli Cyber
No Result
View All Result
  • Regional
  • Nasional
  • Pemerintahan
  • TNI-Polri
  • Hukum
  • Kronik

Beranda » Mengembalikan Citra Kampung Cireungit Sebagai Kampung Santri

Mengembalikan Citra Kampung Cireungit Sebagai Kampung Santri

red cyber by red cyber
2022-11-29
in Featured, Kronik
0
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Solehudin Ramdan
Mudir MTs PERSIS 23 Cireungit

Bagian 1

Asal Mula Nama Cireungit

TERLETAK di Desa Tanjungsari, Kecamatan Cangkuang Kabupaten Bandung Provinsi Jawa Barat Kampung Cireungit dahulunya pernah dijuluki sebagai ‘Kampung Santri‘. Sebelum membahas kenapa kampung Cireungit di sebut kampung santri kita akan bahas dulu asal mula nama Cireungit.

Nama Cireungit berasal dari dua akar kata yaitu Ci yang berarti Cai dan Reungit yang memiliki dua arti yakni.  Pertama Reungit dalam artian seekor binatang kecil yang suka menggigit dalam bahasa Indonesia disebut nyamuk, yang kedua Reungit bisa berarti nama pepohonan, konon katanya pada tahun 1800 an, di sekitar kampung Cireungit banyak tumbuh pepohonan yang memiliki khasiat yang sangat luar biasa.

Yakni daun dari pohon tersebut berfungsi sebagai obat balur ketika gatal, dan baunya sangatlah harum sekali pohon tersebut namanya pohon Reungit, waktu itu masyarakat kampung Cireungit tidak banyak yang tahu akan khasiat pohon tersebut.

Baca juga :  Pembagian Insentif bagi Tenaga Pendidik Non PNS di Sumedang Diduga Diwarnai Pungli

Ketika tentara Belanda mengetahui akan khasiat keistimewaan pohon tersebut kemudian mereka menebangnya sampai tak tersisa satu pun, dan sebagian di bawa ke negara Belanda oleh para tentara tersebut untuk di tanam di negaranya.

Setelah tentara Belanda menebang pohon tersebut warga masyarakat Cireungit baru menyadari akan manfaat dan khasiat Pohon Reungit tersebut, kemudia para tetua atau tokoh masyarakat kampung Cireungit berusaha menanam kembali pohon tersebut akan tetapi tidak ada satupun yang berhasil dan tumbuh kembali, akhirnya untuk mengenang hal tersebut para tetua dan masyarakat sekitar menamai daerah tersebut dengan sebutan kampung Cireungit.

Kampung Cireungit pada awalnya hanya terdiri dari satu RW dahulu namanya RK ( Rukun Keluarga). Seiring bertambahnya jumlah Penduduk dan terisinya lahan-lahan tanah kosong baik tanah sawah ataupun tanah darat sekarang kampung Cirengit terdiri dari 5 RW yakni, RW 01, 02, 03, 09 dan RW 10.

Kampung Cireungit Sebagai Kampung Santri

Pada awal abad 20, sekitar tahun 1920 kampung Cireungit Kecamatan Cangkuang dahulunya Kecamatan Banjaran terdapat kelompok-kelompok kecil pengajian di Surau (Tajug) yang sekarang namanya Masjid Al Amanah, Masjid tersebut pada awalnya ditokohi seorang ulama yang bernama KH. Ma’mun yang terkenal dengan nama Ajengan Cireungit atau oleh orang Cireungit sering di sebut Mama Ajeungan Ma’mun.

Baca juga :  Kembali Catat Sejarah, Sumedang Luncurkan Sekolah Rakyat Pertama di Indonesia

Pada saat itu Kampung Cireungit dikenal sebagai kampung santri. Para santrinya kebanyakan berusia muda. Mereka mengaji kitab-kitab madzhab Imam Syafi’i dengan menggunakan metode sorogan atau bandongan. Kitab yang dikaji seperti kitab Safinah dan kitab Fathul Mu’in.

Ketokohan Ajengan Cireungit sangat melekat erat dalam kehidupan masyarakat. Segala persoalan yang dialami masyarakat selalu ditumpahkan kepada beliau sebagai sumber solusi. Perkataan beliau pun menjadi acuan dan rujukan pertama masyarakat kampong Cireungit Khususnya dan daerah Banjaran pada umumnya.

Seperti apa ketokohan Mama Ajengan Ma’mun dan pengaruhnya menerangi kampung Cirengit serta bagaimana interaksi dengan para tokoh PERSIS di Cirengit, kita lanjutkan bagian berikutnya. **

Previous Post

Program KB Upaya Lahirkan Keluarga Berkualitas

Next Post

Badut Polisi Hibur Anak-Anak Korban Gempa Bumi Cianjur

BeritaTerkait

Featured

Ruang Belajar Kontekstual, Bupati Sumedang Dorong Sekolah Manfaatkan Tahura dan Museum Prabu Geusan Ulun

2026-01-19
Featured

Temui Pelajar SMPN 1 Paseh, Wabup Ingatkan Peran Teknologi dan Media Sosial

2026-01-19
Featured

Bupati Tanah Bumbu: Isra Mi’raj sebagai Momentum Memperkuat Ukhuwah dan Spiritualitas Umat

2026-01-19
Featured

Harlah Ke-53 PPP, Bupati Dony: Jadikan Momentum Ini Sebagai Wahana Bercermin

2026-01-19
Ekonomi

Yayasan Baitul Maal BRILiaN Region 9 Luncurkan Program MIGP, Berdayakan Ekonomi Mustahik

2026-01-19
Featured

Buruan Sae RW 09 Jadi Model di Kelurahan Babakan Ciparay

2026-01-18
Next Post

Badut Polisi Hibur Anak-Anak Korban Gempa Bumi Cianjur

No Result
View All Result

Berita Terkini

Ruang Belajar Kontekstual, Bupati Sumedang Dorong Sekolah Manfaatkan Tahura dan Museum Prabu Geusan Ulun

2026-01-19

Temui Pelajar SMPN 1 Paseh, Wabup Ingatkan Peran Teknologi dan Media Sosial

2026-01-19

Bupati Tanah Bumbu: Isra Mi’raj sebagai Momentum Memperkuat Ukhuwah dan Spiritualitas Umat

2026-01-19

Harlah Ke-53 PPP, Bupati Dony: Jadikan Momentum Ini Sebagai Wahana Bercermin

2026-01-19

Yayasan Baitul Maal BRILiaN Region 9 Luncurkan Program MIGP, Berdayakan Ekonomi Mustahik

2026-01-19
Patroli Cyber

Patrolicyber.com - Membangun Bangsa Indonesia

Jl. Ahmad Yani No. 262 (Lt.2 Komp. Stadion Sidolig) Kota Bandung
Email: redaksipatrolicyber@gmail.com

  • Home
  • Ekonomi
  • TNI-Polri
  • Hukum
  • Nasional
  • Olahraga
  • Politik
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • PARLEMEN
  • Kronik

Patrolicyber.com © 2020 MFC

No Result
View All Result
  • Home
  • Ekonomi
  • Entertainment
  • TNI-Polri
  • Hukum
    • Kronik
  • Nasional
    • Regional
  • Olahraga
  • Politik
    • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi

Patrolicyber.com © 2020 MFC