SUMEDANG,– Musim kemarau sudah dimulai. Basarnas Jawa Barat pun menyatakan siap menghadapi bencana kekeringan yang kerap terjadi di beberapa daerah di Jawa Barat sebelum puncak kemarau yang diperkirakan akan tiba pada Agustus 2019.
“Intinya kita siap menghadapi semua kemungkinan yang terjadi dalam pancaroba. Basarnas tidak mengenal musim, kita siap 24 jam, karena motonya lebih baik siap sebelum terjadi daripada tidak siap saat terjadi,” ujar Kepala Basarnas Bandung, Deden Ridwansah, saat ditemui di Kantor Basarnas Bandung, Selasa 25 Juni 2019.
Deden menyebutkan, untuk tahun ini, Basarnas Jawa Barat melakukan strategi tambahan yaitu melalui upaya preventif. Pasalnya pada tahun-tahun sebelumnya, Basarnas sudah melakukan aksi reaktif jika kekeringan telah terjadi di suatu daerah.
“Kenapa antisipasi karena kita juga, meski siap 24 jam, namun tetap memberi imbauan kewaspadaan perihal perkiraan perubahan cuaca ini pada masyarakat, bahwa Juni sudah masuk musim kemarau. Kami mohon antisipasi pada puncak kemarau musim kemarau di Agustus,” ujarnya.
Dikatakan, antisipasi yang dilakukan akan disesuaikan dengan potensi bencana yang terjadi. Ketika puncak kemarau, selain kekeringan ada pula bencana kebakaran hutan dan lahan. Ia pun menyatakan akan segera memetakan potensi bencana di masing-masing di wilayahnya.
“Jadi dari sekian kabupaten/kota di Jawa Barat, ada beberapa wilayah yang berpotensi rawan kebakaran hutan, nanti kita akan antisipasi dengan melakukan koordinasi bersama stae holder lainnya,” pungkas Deden.
Sebelumnya, Pusat Analisis Situasi Bencana Badan Nasional Penanggulangan Bencana (Pastigana BNPB) memprediksi bahwa puncak kemarau bakal terjadi bulan Agustus 2019. Pastigana BNPB juga memperkirakan akan terjadi hari tanpa hujan atau lebih dari 60 hari tidak akan terjadi hujan atau kemarau dengan kategori ekstrem di wilayah Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara Timur.
“Wilayah yang diperkirakan akan mengalami hari tanpa hujan lebih dari 60 hari, antara lain Kemulan, Jawa Timur; Sambirenteng, Bali; serta Wairang, Fatukety, Sulamu, dan Oepoi di Nusa Tenggara Timur,” kata Kepala Bidang Hubungan Masyarakat BNPB Rita Rosita.
Kendati demikian, pihaknya meminta seluruh unsur yang terlibat dalam antisipasi bencana kemarau, termasuk Basarnas menyiapkan diri sedini mungkin. []
Abas












