TANAH BUMBU, – Suasana khidmat menyelimuti pelataran TPA Nurul’Ala di Kelurahan Gunung Tinggi, Kecamatan Batulicin, Kabupaten Tanah Bumbu, pada salah satu malam di bulan suci Ramadan. Usai melaksanakan salat Tarawih berjamaah, puluhan santri cilik tidak langsung pulang ke rumah. Mereka berkumpul melingkar di area mushola, membuka mushaf Al-Qur’an untuk melanjutkan tradisi tadarus bersama yang rutin digelar setiap malam selama Ramadan.
Dengan penuh semangat, para santri melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an secara bergantian. Suasana tenang dan penuh kekhusyukan terasa ketika suara bacaan Al-Qur’an bergema di dalam mushola, menciptakan nuansa spiritual yang mendalam bagi para santri maupun para pengajar yang mendampingi mereka.
Namun, ada suasana yang sedikit berbeda pada malam itu. Setelah rangkaian tadarus selesai dan ditutup dengan doa bersama, keceriaan anak-anak semakin terlihat ketika para pengajar mulai mengeluarkan beberapa nampan besar berisi hidangan makanan. Tradisi makan bersama atau yang akrab disebut “kembulan” menjadi agenda penutup yang paling ditunggu-tunggu oleh para santri.
Kepala TPA Nurul’Ala, Ustadz Syamsuni, menjelaskan bahwa kegiatan makan bersama tersebut merupakan agenda rutin yang dilaksanakan setiap malam selama bulan suci Ramadan. Kegiatan ini tidak hanya bertujuan untuk memberikan kebahagiaan bagi para santri setelah belajar mengaji, tetapi juga menjadi sarana untuk mempererat tali silaturahmi serta menanamkan nilai kebersamaan sejak dini.
“Kami ingin anak-anak merasa bahwa masjid dan TPA adalah rumah kedua yang menyenangkan bagi mereka. Dengan makan bersama dalam satu nampan seperti ini, mereka belajar tentang kesederhanaan, kekompakan, serta rasa syukur setelah lelah mengaji dan tadarus Al-Qur’an,” ujar Ustadz Syamsuni.
Menu makanan yang disajikan pun cukup beragam meski sederhana. Pada beberapa malam, para santri menikmati hidangan seperti ayam goreng, nasi goreng, hingga mi yang menjadi favorit anak-anak. Pada malam tersebut, hidangan mi menjadi santapan yang dinikmati bersama oleh para santri setelah menyelesaikan tadarus.
Makanan yang disajikan sebagian besar berasal dari para donatur yang dengan ikhlas berbagi rezeki untuk mendukung kegiatan para santri di bulan suci Ramadan. Ustadz Syamsuni menyebutkan bahwa bantuan tersebut datang dari berbagai pihak, termasuk dari para dermawan yang ingin berkontribusi bagi pendidikan agama anak-anak.
“Alhamdulillah, ada banyak hamba Allah yang dengan tulus membantu menyediakan makanan bagi anak-anak santri di TPA Nurul’Ala selama Ramadan. Dukungan ini tentu sangat berarti bagi kami dan membuat anak-anak semakin semangat mengikuti kegiatan tadarus setiap malam,” tambahnya.
Meski hidangan yang disajikan tergolong sederhana, suasana makan bersama terasa sangat istimewa bagi para santri. Mereka duduk melingkar, menikmati makanan dari nampan yang sama, sambil bercanda dan berbagi cerita dengan teman-temannya. Riuh tawa anak-anak pun menghidupkan suasana malam Ramadan yang sebelumnya penuh ketenangan.
Salah seorang santri, Muhammad Agasta Azhar, mengaku sangat senang dengan kegiatan makan bersama tersebut. Menurutnya, kegiatan itu membuat dirinya dan teman-temannya semakin bersemangat mengikuti tadarus setiap malam.
“Mengajinya jadi lebih semangat karena setelah itu bisa makan bareng teman-teman. Rasanya lebih enak makan bareng-bareng daripada makan sendiri di rumah,” ujar Agasta dengan wajah ceria.
Kegiatan tadarus yang dilanjutkan dengan makan bersama ini diharapkan dapat menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap Al-Qur’an sejak usia dini. Selain itu, kegiatan tersebut juga menjadi sarana pembelajaran sosial bagi anak-anak untuk memahami arti kebersamaan, kepedulian, serta pentingnya berbagi dengan sesama.
Menjelang akhir kegiatan, para santri juga diajak untuk membersihkan area mushola secara bersama-sama. Mereka merapikan tempat makan, mengumpulkan sampah, serta membantu menjaga kebersihan ruangan sebelum pulang ke rumah masing-masing.
Melalui kegiatan tersebut, para pengajar tidak hanya mengajarkan ilmu agama, tetapi juga menanamkan nilai tanggung jawab kepada para santri untuk menjaga kebersihan dan merawat lingkungan tempat mereka belajar.
Malam Ramadan di TPA Nurul’Ala pun ditutup dengan suasana penuh kebahagiaan. Para santri pulang ke rumah masing-masing dengan hati riang, membawa pengalaman kebersamaan yang hangat serta semangat baru untuk kembali belajar dan mengaji pada malam berikutnya. (Ag)












