TASIKMALAYA,- Hotel atau penginapan biasanya mengutamakan suasana aman dan nyaman bagi pengunjung. Hotel juga memiliki tujuan agar tamunya merasa nyaman saat beristirahat, tanpa ada gangguan dari pihak manapun.
Akan tetapi sungguh sangat disayangkan, dimana salah satu hotel di Tasikmalaya diduga sering kali dijadikan tempat muda-mudi mesum dan dijadikan tempat untuk pesta narkoba semisal minuman keras.
Saat salah satu tamu dari luar kota, mengaku hendak beristrirahat di Hotel Mangkubumi, di Jl. AH Nasution KM 7, Mangkubumi, Kecamatan Mangkubumi, Tasikmalaya, Jawa Barat, Senin (1/3/2021) dini hari.

Di samping kamar hotel, sang tamu mengaku mendengar kegaduhan yang sangat mengganggu tamu hotel lainnya. Tamu dan pengunjung pun melaporkan ke bagian resepsionis hotel untuk segera memberikan teguran atas kegaduhan yang ada di kamar hotel nomor 8 tersebut.
Benar saja. Sungguh sangat terkejut dan sontak terdiam seribu bahasa, saat pintu kamar dibuka, ditemukan beberapa muda mudi yang sedang pesta minuman keras atau miras di kamar no 8 tersebut. Terlihat juga ada enam laki-laki dan satu perempuan yang sedang mengkonsumsi miras.
Satu perempuan yang sempat dikonfirmasi, SN (25) mengaku di hotel tersebut hanya minum-minuman saja, tidak ada yang konsumsi narkoba.
“Kemarin juga saya minum-minum di hotel ini tidak ada masalah. Kenapa sekarang ramai seperti ini,” ucapnya, setengah tak sadar akibat pengaruh alkohol.
Sementara salah satu tamu hotel, ZN mengaku heran karena hotel sekelas bintang 3 bisa kecolongan oleh tamu yang menggelar pesta miras.
“Kok bisa ya, hotel sekelas bintang 3 ini keamanan dan aturan disiplinya sangat minim. Bisa kecolongan sampai ada pesta miras yang dilakukan begitu banyak orang dalam satu kamar. Kami kapok karena sangat terganggu, merasa tidak nyaman,” ujarnya.
Sementara itu, Buloh selaku Kabag Umum Hotel Mangkubumi saat dikonfirmasi mengaku pihaknya tidak tahu ada kejadian seperti itu.
“Justru kami baru tahu sekarang. Alhamdulilah mungkin jadi bahan koreksi kami nanti kedepan agar lebih baik dan diperketat lagi,” ucapnya.
Ia pun meminta wartawan tidak mempublikasikan permasalahan tersebut. Sementara sejumlah penginap meminta agar hal ini dipublikasikan agar mendapat perhatian serius pemerintah setempat.
“Berdasarkan keputusan manajemen, kami tidak mengizinkan bapak (wartawan) untuk memuat atau mengekspos berita tersebut. Sebagai permintaan maaf dari manajem, kami akan mengembalikan sewa kamar yang bapak tempati kemarin,” ucap Buloh. (pur)












