BANDUNG,- Modus penipuan digital terus berubah. Pelaku tidak hanya bermain lewat jual beli daring atau investasi bodong, tetapi juga memanfaatkan nomor seluler. rekening hingga identitas digital calon korban.
Antisipasi hal tersebut Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jabar berkolaborasi bersama Jurnalis Hukum Bandung (JHB), akan menggelar diskusi Bandung Digital Security Forum (BDSF) 2026 yang akan digelar pada 29 Oktober mendatang.
Praktisi teknologi informasi, keamanan siber dan hukum Satriyo Wibowo menilai tingginya laporan scam di Jawa Barat perlu dibaca lebih jauh, tidak sebatas menjadi angka. Data yang tersedia bisa digunakan untuk mengetahui modus, karakteristik korban hingga wilayah yang paling banyak menghadapi kasus penipuan.
“Data itu saja kita olah bagaimana kita sebagai warga Jawa Barat bisa memitigasi risiko itu. Menurut saya, ini menjadi suatu peluang yang besar karena sudah ada problemnya,” kata Satriyo dalam wawancara melalui Zoom beberapa waktu lalu.
Satriyo berharap BDSF tidak berhenti sebagai forum diskusi. Menurutnya, data scam dapat digunakan untuk menyusun sasaran pencegahan yang lebih jelas.
“Kalau sama-sama kita launching gerakan, targetnya jelas. Gerakan ini ingin menurunkan risiko penipuan digital dari tahun lalu, misalnya. Itu kan lebih jelas,” ujarnya.
Nomor Seluler Ikut Jadi Celah
Data Indonesia Anti-Scam Centre (IASC) menunjukkan persoalan scam masih cukup besar. OJK mencatat sejak IASC beroperasi pada 22 November 2024 hingga 31 Agustus 2026 telah menerima 668.441 laporan.
Dalam periode tersebut, 659.419 rekening telah diblokir. IASC juga mencatat 159.472 nomor telepon yang dilaporkan oleh korban penipuan.
Sementara data yang dihimpun dalam persiapan BDSF 2026 mencatat sebanyak 131.445 laporan scam berasal dari Jawa Barat.
Pengamat keamanan siber dan forensik digital dari Vaksincom, Alfons Tanujaya, melihat nomor seluler kini menjadi bagian penting dari identitas seseorang di ruang digital.
“Kalau penipu ingin melakukan penipuan, syaratnya adalah dia harus memiliki identitas digital. Yang mudah didapatkan adalah nomor seluler karena WhatsApp ini masih belum memperbolehkan pembukaan akun tanpa nomor seluler,” kata Alfons seperti dikutip dari Tirto.id, 5 Oktober 2026.
Nomor seluler saat ini memang tidak lagi sebatas digunakan untuk menelepon atau berkirim pesan. Nomor yang sama banyak terhubung dengan aplikasi percakapan, media sosial hingga berbagai layanan digital.
Di sisi lain, modus yang ditemukan juga semakin beragam. Mulai dari social engineering, QRIS palsu, pemalsuan bukti pembayaran hingga penggunaan akun dan data pribadi untuk meyakinkan korban.
Kondisi tersebut membuat penanganan scam bersinggungan dengan banyak pihak. Bukan hanya aparat penegak hukum, tetapi juga sektor jasa keuangan, perusahaan telekomunikasi, pemerintah hingga pengelola platform digital.
BDSF 2026 akan mempertemukan sejumlah unsur tersebut untuk membahas perkembangan modus penipuan serta langkah pencegahan yang bisa dilakukan bersama.
Disclaimer: Data dan informasi pendukung dalam pemberitaan ini dihimpun dari publikasi resmi OJK/Indonesia Anti-Scam Centre (IASC) serta pemberitaan Tirto.id, Detik.com, Kumparan dan IDN Times. Pernyataan Alfons Tanujaya dikutip dari Tirto.id edisi 5 Oktober 2026. Data dan informasi tersebut digunakan sebagai bahan pendukung pemberitaan BDSF 2026.**












