• Pedoman Media Siber
  • Redaksi
Rabu, September 16, 2026
Patroli Cyber
Advertisement
  • Home
  • Ekonomi
  • TNI-Polri
  • Hukum
  • Nasional
    • Regional
  • Olahraga
  • Politik
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • PARLEMEN
  • Kronik
No Result
View All Result
  • Home
  • Ekonomi
  • TNI-Polri
  • Hukum
  • Nasional
    • Regional
  • Olahraga
  • Politik
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • PARLEMEN
  • Kronik
No Result
View All Result
Patroli Cyber
No Result
View All Result
  • Regional
  • Nasional
  • Pemerintahan
  • TNI-Polri
  • Hukum
  • Kronik

Beranda » Ketika Aktivis Diserang, Publik Bertanya: Di Mana Negara?

Ketika Aktivis Diserang, Publik Bertanya: Di Mana Negara?

red cyber by red cyber
April 12, 2026
in Politik
0
Share on FacebookShare on Twitter

BANDUNG — Kasus penyiraman air keras terhadap aktivis Andrie Yunus (AY) bukan sekadar kriminalitas. Ini adalah ujian telanjang: apakah negara benar-benar berdiri di atas hukum, atau justru tunduk pada kekuasaan?.

Empat pelaku yang diduga terlibat diketahui berasal dari unsur militer. Fakta ini langsung memantik kecurigaan publik akankah kasus ini diadili secara terbuka, atau berakhir dalam ruang tertutup yang sulit diawasi?

Diskusi publik yang digelar Basecamp Demokrasi di Bandung, Sabtu (11 April 2026), menjadi panggung kegelisahan itu. Satu per satu narasumber menyuarakan kekhawatiran yang sama: bayang-bayang impunitas.

Penggiat HAM, Yhodisman Sorata, mengingatkan bahwa reformasi 1998 tidak diperjuangkan untuk setengah jalan.

“Dulu kita menolak dominasi militer dalam kehidupan sipil. Kalau sekarang kasus pidana umum masih dibawa ke peradilan militer, lalu apa arti reformasi?” ujarnya tajam.

Baca juga :  Unik! Dua TPS di Cilacap Selatan Bernuansa Asian Games Dilengkapi Door Prize

Menurutnya, membawa kasus ini ke peradilan militer bukan hanya soal prosedur, tetapi soal pesan politik: bahwa ada kelompok yang masih berada di atas hukum.

Kecurigaan itu bukan tanpa alasan. Peradilan militer selama ini kerap dianggap tertutup dan minim pengawasan publik.

“Kalau transparansi hilang, kepercayaan publik ikut runtuh,” tegas Yhodisman.
Sementara itu, akademisi komunikasi politik Vera Hermawan melihat kasus ini sebagai ancaman serius terhadap rasa aman warga.

“Ketika aktivis bisa diserang, itu bukan lagi soal individu. Itu pesan intimidasi,” katanya.

Ia bahkan tidak menutup kemungkinan adanya konflik kepentingan atau relasi kuasa di balik peristiwa tersebut.

“Ini tidak bisa disederhanakan sebagai kecelakaan. Publik berhak tahu: siapa di balik ini semua?” ujarnya.

Direktur Eksekutif IPRC, Mochamad Indra Purnama, memperingatkan dampak yang lebih luas: runtuhnya kepercayaan terhadap demokrasi.

Baca juga :  KPU Sumedang Sebut Ratusan Bacaleg Tak Memenuhi Syarat

“Impunitas melahirkan apatisme. Ketika rakyat tidak lagi percaya hukum, mereka juga berhenti percaya pada demokrasi,” katanya.

Ketua Basecamp Demokrasi, Nabil Rahim, menyampaikan sikap tegas: kasus ini harus diadili di peradilan umum.
“Kalau tidak, publik akan melihat ini sebagai perlindungan institusional. Dan itu berbahaya,” ujarnya.

Kini, sorotan publik tidak lagi hanya pada pelaku, tetapi pada negara itu sendiri.
Apakah hukum akan ditegakkan tanpa pandang bulu?

Atau justru kembali tajam ke bawah, tumpul ke atas?

Kasus AY telah berubah menjadi simbol. Bukan hanya tentang kekerasan, tetapi tentang keberanian negara menegakkan keadilan.

Jika transparansi gagal diwujudkan, maka yang runtuh bukan hanya kepercayaan publik tetapi juga fondasi demokrasi itu sendiri.

Previous Post

Dishub Percepat Penerangan Kawasan Taman Lalu Lintas

Next Post

Seleksi Paskibraka Tanah Bumbu 2026 Resmi Dibuka, Cetak Generasi Muda Berkarakter, Disiplin dan Nasionalis

BeritaTerkait

Anggota DPRD Kabupaten Bandung, Venny Noveny bersalaman dengan sejumlah anak-anak disela rutinitas tugas sebagai wakil rakyat. (foto: istimewa)
Featured

Venny Noveny, Tiga Fungsi Utama DPRD dan Hak Rakyat

Agustus 19, 2026
Featured

Dibawah Kepemimpinan Daniel Mutaqien Golkar Jabar Siap Tancap Gas

Juli 30, 2026
Featured

Jelang Tahun Politik 2029, Wabup Sumedang Sampaikan Materi di P2P Bawaslu

Juli 15, 2026
Featured

BaraJP Bogor Raya: Dapil 5 Kabupaten Bogor Harus Jadi Basis Gajah

Juli 12, 2026
Featured

Bawa Misi Menangkan PSI di Jabar, BaraJP Temui DPW PSI Jawa Barat

Juli 12, 2026
Featured

PKS Gelar Weekend Festival: Hadirkan Layanan Kesehatan hingga Aksi Peduli Lingkungan

Juni 14, 2026
Next Post

Seleksi Paskibraka Tanah Bumbu 2026 Resmi Dibuka, Cetak Generasi Muda Berkarakter, Disiplin dan Nasionalis

No Result
View All Result

Berita Terkini

Keberadaan Baznas Harus Memberikan Manfaat Nyata bagi Masyarakat

September 16, 2026
Soal Literasi dan Kearsipan, Sumedang Peringkat 4 Tingkat Kegemaran Membaca di Jabar

Soal Literasi dan Kearsipan, Sumedang Peringkat 4 Tingkat Kegemaran Membaca di Jabar

September 15, 2026
Pemkab Sumedang Perkuat Mitigasi Hadapi Musim Hujan, Wilayah Ini Rawan Longsor

Pemkab Sumedang Perkuat Mitigasi Hadapi Musim Hujan, Wilayah Ini Rawan Longsor

September 15, 2026

Iman Lestariyono Minta Lokakarya Mini Kesehatan Diwujudkan Berbagai Elemen

September 15, 2026

Masuki Musim Hujan, Pemkab Sumedang Perkuat Antisipasi, Peta Rawan Bencana Jadi Prioritas

September 15, 2026
Patroli Cyber

Patrolicyber.com - Membangun Bangsa Indonesia

Jl. Ahmad Yani No. 262 (Lt.2 Komp. Stadion Sidolig) Kota Bandung
Email: redaksipatrolicyber@gmail.com

  • Home
  • Ekonomi
  • TNI-Polri
  • Hukum
  • Nasional
  • Olahraga
  • Politik
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • PARLEMEN
  • Kronik

Patrolicyber.com © 2020 MFC

No Result
View All Result
  • Home
  • Ekonomi
  • Entertainment
  • TNI-Polri
  • Hukum
    • Kronik
  • Nasional
    • Regional
  • Olahraga
  • Politik
    • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi

Patrolicyber.com © 2020 MFC