KOTA BANJAR,– Sebanyak 8 warga di RT 01, RW 01 Desa Raharja, Kecamatan Purwaharja, Kota Banjar, Jawa Barat terserang wabah Demam Berdarah Dengue (DBD). Kondisi tersebut dinilai sebagai imbas dari lambannya pemerintah untuk melakukan ansitipasi.
“Ada 8 orang warga yang terkena DBD dan dibawa ke RSUD Banjar. Benar-benar disayangkan karena Dinkes boyot (lamban, red), tidak cepat tanggap untuk turun langsung ke lingkungan,” ujar Aep, warga setempat, Sabtu (7/3/2020).
Sejauh ini, kata Aep, penanganan antisipasi DBD tidak dirasakan masyarakat, khususnya yang tinggal di Desa Raharja. Para pemangku kebijakan dinilainya hanya turun ketika ada masyarakat yang sudah terkena wabah dan meninggal.
“Mana sosialisasi atau tindakan yang membuat masyarakat paham? Sejauh ini tidak ada dan tidak sampai kepada kami. Padahal Raharja ini tempatnya tidak jauh dengan pusat kota,” keluhnya.
Aep mengungkapkan, dari 8 warga yang terkena DBD perlu tindakan cepat tangap atas persoalan DBD karena sampai saat ini belum juga ada langkah tepat dalam menangani hal tersebut.
Hal senada dikatakan Yati yang anaknya terkena DBD. Ia menyampaikan hal yang sama bahwa di Kelurahan Purwaharja hanya baru dua orang saja yang terkena DBD dan langsung ada penyemprotan poging dan di daerah Cibeureum.
“Padahal di sana hanya beberapa orang saja yang kena DBD. Di sini sudah banyak terjangkit DBD, tapi belum juga ada tindakan dan sebaiknya itu dilakukan secepatnya di daerah kami,” jelasnya.
Ditambahkan, wabah DBD semakin menjadi di musim penghujan seperti ini. Sehingga fogging seharusnya tidak hanya dilakukan satu kali, tapi minimal dua kali.
“Satu kali hanya untuk membunuh nyamuk yang sudah jadi dalam satu minggu dan kemudian harus di- fogging lagi untuk membunuh nyamuk yang masih jentik, supaya tidak terus bertambah korban DBD lagi,” ucapnya.
Sementara itu, Mamat yang juga warga RT 01 menyampaikan data korban yang sudah masuk rumah sakit dan positif terkena DBD. Mereka ialah:
1. Imas (dewasa)
2. Salsa (anak-anak)
3. Kaka (anak-anak)
4. Kodir (dewasa)
5. Desti (anak-anak)
6. Keroh (dewasa)
7. Ida Rosmiati (dewasa)
8. Aep (dewasa)
Dengan jumlah warga yang terus terjangkit DBD, Mamat berharap agar secepatnya dinas terkait melakukan tindakan.
Kepala Desa Raharja Yayat saat dihubungi menyampaikan akan segera berkoordinasi dengan pihak puskesmas dan dinas kesehatan.
“Saya juga khawatir dengan adanya fogging akan menimbulkan masalah baru, yaitu penyakit sesak napas. Apa pun alasannya dengan tidak mengindahkan akan resiko lain pada warga, saya berharap dinas terkait segera mengambil tindakan kongkrit,” ujarnya. (Pamungkas)












