GARUT, patrolicyber.com – Polemik biaya Rp45 ribu yang sempat viral di objek wisata Sayang Heulang saat libur Lebaran 2026 disebut telah berakhir damai. Pihak pengelola bersama unsur terkait menyatakan persoalan itu sudah diklarifikasi dan diselesaikan secara kekeluargaan, sehingga diharapkan tidak lagi menimbulkan kegaduhan di ruang publik.
ㅤ
Kepala UPT pariwisata, Iwan Siswandi, menjelaskan bahwa klarifikasi dilakukan setelah muncul konten di media sosial yang mempersoalkan biaya masuk dan parkir di kawasan wisata tersebut. Menurutnya, pihak yang mengunggah video, saksi di lapangan, serta pihak terkait telah dipertemukan untuk membahas persoalan yang sempat ramai dibicarakan itu.
ㅤ
“Alhamdulillah hari ini sudah diklarifikasikan dengan yang mengontenkan ini, juga saksi-saksinya. Sudah meminta maaf semua, sudah ada penyelesaian,” ujar Iwan dalam video klarifikasi.
ㅤ
Ia menilai kejadian itu menjadi pelajaran bagi semua pihak agar persoalan di lapangan tidak langsung dibawa ke media sosial tanpa memahami duduk masalahnya lebih dulu. Menurut Iwan, penyebaran informasi yang tidak utuh dapat menimbulkan salah paham yang lebih besar, bahkan bisa bersinggungan dengan persoalan hukum.
ㅤ
“Mudah-mudahan ini tidak terulang kembali untuk ke depannya dan juga pihak-pihak lain tidak begitu mudah memviralkan masalah ini, karena ini sedikitnya menyangkut dengan hukum-hukum yang terkait,” katanya.
ㅤ
Dalam keterangannya, Iwan juga menegaskan kawasan wisata Sayang Heulang tetap dalam kondisi tertib, aman, dan nyaman untuk dikunjungi. Karena itu, masyarakat diminta tidak ragu untuk tetap datang menikmati objek wisata tersebut.
ㅤ
“Kepada seluruh pengunjung, untuk mengunjungi objek wisata Sayang Heulang, karena Sayang Heulang Alhamdulillah tertib, aman, dan nyaman untuk dikunjungi,” ucapnya.
ㅤ
Salah satu pihak yang turut hadir dalam video klarifikasi juga menyampaikan permohonan maaf atas kegaduhan yang sempat berkembang di media sosial. Menurut penjelasannya, persoalan yang viral itu berawal dari kesalahpahaman, bukan sengketa yang tidak bisa diselesaikan.
ㅤ
Ia juga mengingatkan, bila ada pengunjung yang merasa keberatan atau belum memahami tata cara pembayaran di lokasi wisata, pengaduan seharusnya dapat langsung disampaikan kepada petugas terdekat atau ke pos yang tersedia, bukan langsung dibawa ke ruang publik tanpa penjelasan lengkap.
ㅤ
“Kalau memang ada yang merasa keberatan silakan mengadu ke petugas yang terdekat ataupun ke pos tersebut,” ujarnya.
ㅤ
Polemik ini sebelumnya mencuat setelah ada unggahan yang mempersoalkan pembayaran Rp45 ribu untuk satu sepeda motor. Dalam klarifikasi yang beredar, nominal itu disebut bukan tarif parkir semata, melainkan gabungan dua tiket masuk masing-masing Rp20 ribu ditambah parkir motor Rp5 ribu.
ㅤ
Ramainya suasana libur Lebaran disebut ikut memperkeruh situasi, terlebih karena masih ada karcis lama yang digunakan sehingga menimbulkan tafsir berbeda di kalangan pengunjung. Dari sini, persoalan yang seharusnya bisa dijelaskan di lokasi justru berkembang menjadi perbincangan luas di media sosial.
ㅤ
Kini, setelah penyelesaian dilakukan secara kekeluargaan, pengelola berharap peristiwa itu menjadi evaluasi bersama. Tidak hanya bagi petugas di lapangan, tetapi juga bagi pengunjung agar lebih mengutamakan klarifikasi langsung sebelum menyebarkan persoalan ke publik. Dengan begitu, Sayang Heulang diharapkan tetap dikenal sebagai destinasi wisata yang nyaman dikunjungi, baik saat musim liburan maupun di hari biasa.**












