JAKARTA,– Ketua Umum DPP Barisan Relawan Jalan Perubahan (BaraJP), Willem Frans Ansnay buka suara soal isu yang menyebutkan hubungan Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi) dan Presiden RI Prabowo Subianto retak.
Willem menilai asumsi itu hanya tanggapan dari narasumber dan para pihak yang mungkin tidak suka dengan hubungan keduanya.
“Keretakan yang digambarkan secara luas oleh media dan para narasumber itu titik akhirnya adalah ketika pertemuan para relawan dengan pak Jokowi. Ada pernyataan yang keluar secara fulgar dari Ketua Umum Projo yang mengatakan bahwa Pemilu 2029 ini akan patah di tengah jalan,” kata Willem, dalam sebuah podcast, belum lama ini.
Dari pernyataan tersebut, tambah Willem, muncul narasi yang menggambarkan pertemuan tersebut sebagai anti-klimaks.
“Saya hadir dalam pertemuan itu. Pada saat itu berbagai ketua-ketua relawan menyampaikan pikirannya tentang pers, karena pak Jokowi sedang road show keliling Indonesia untuk membersarkan PSI. Persoalannya adalah, ada juga selain dari Ketua Projo yang sempat bereda bahwa beliau (Jokowi, red) akan memposisikan diri sebagai Sekjen PSI. Inilah dinamika diskusi pada saat itu,” ungkap Willem.
Willem menuturkan, kondisi di mana relawan lain yang sudah menjadi bagian dari PSI menyampaikan pikiran mendukung sikap Jokowi dan PSI.
“Yang mendesak bahwa pak Jokowi harus menjadi Ketua Umum PSI dan atau Ketua Pembina PSI adalah saudara Budi Arie dan teman-teman Projo. Saya eggak tahu ini massage nya apa dan dari mana? Apakah pertemuan ini memang diskenariokan untuk itu? Jawaban saya sebagai Ketua Umum BaraJP adalah bahwa pak Jokowi itu kan seorang negarawan dan PSI punya rumah tangga. Jadi pada pertemuan itu kami dan relawan lain tidak terlalu memusingkan soal posisi Ketua Umum atau Pembina PSI. Apalagi saya, tidak mau mencampuri rumah tangga orang,” jelasnya.
Hal yang muncul kedua, sambung Willem, diakhir pertemuan itu, Jokowi akan meninggalkan acara tetapi harus menjawab semua pertanyaan.
“Terakhir itu, Budi Arie meminta waktu untuk menyampaikan pikirannya. Nah pikirannya tadi, yaitu kekuasaan ini tidak akan sampai selesai, kemungkinan berhenti di tengah jalan. Nah statement inilah yang kemudian muncul spekulasi dan pandangan orang bahwa ada keretakan pak Jokowi dan pak Prabowo,” beber Willem.
Dirinya sangat menyayangkan karena video yang dimunculkan dipenggal atau tidak tuntas sampai pernyataan akhir Jokowi yang menyatakan ‘jangan terpancing dengan isu diluaran, dan tetap mendukung pemerintahan yang sah sampai selesai’.
“Jadi bagi saya, sikap Ketua Umum Projo itu tidak elegan. Apalagi Sekjen Projo mengatakan bahwa video itu diperuntukan untuk internal mereka, kenapa bisa bocor? Berarti saya menganalisa video itu dibuat oleh Projo, tetapi kemudian bisa bocor keluar,” ujarnya, seraya mempertanyakan apa tujuan dibuatnya video tersebut.
Pada situasi itu, Willem menjelaskan jika BaraJP tidak bisa membantah karena setelah pernyataan Jokowi yang tidak mendukung sikap Projo, maka perosalannya selesai.
“Yang kami sayangkan, kok bisa keluar berita itu. Lalu menjelang aksi unjuk rasa masyarakat menuntut ke DPR dan lain-lain, satu hari sebelumnya ada flare yang muncul diluaran bahwa ada kudeta yang dirancang secara sistematik pergerakannya. Di situ ada Projo dan BaraJP, saya langsung menepis bahwa kami tidak dalam posisi itu. Kami yang mensosialisasikan pasangan Prabowo-Girban, ngapain kami kudeta,” tegasnya.
Ia juga menyayangkan pernyataan Budie Arie tersebut kemudian diolah dan melebar seolah-olah ada keretakan antara Jokowi dan Prabowo.
“Tapi saya membaca, ada satu berita video yang mengutip pernyataan pak Prabowo soal terkesan pak Jokowi dan pak Prabowo ada keretakan. Nah dari mulut pak Prabowo sendiri itu karena hanya pandangan pengamat dan lain-lain. Artinya saya salut dengan sikap kenegarwanan pak Prabowo bahwa seolah-olah hal itu biasa dan pak Jokowi juga tidak menunjukan sikap anti-kilmaksnya dengan mengatakan bahwa pak Jokowi tetap mendukung Prabowo-Gibran sampai selesai tahun 2029 dan mendukung dua periode. Jadi tidak ada keretakan Jokowi dan Prabowo,” ungkap Willem.
Willem juga dengan tegas menyatakan bahwa tidak ada relawan yang menggalang kekuatan untuk mengkudeta pemerintahan Prabowo-Gibran.
“Bahkan ‘kan pernyataan pak Jokowi di akhir itu mengingatkan kami agar jangan terpancing dengan isu-isu diluaran, seperti isu MBG, pajak, koperasi merah putih dan lainnya, sehingga hal itu mendorong masyarakat kurang percaya kepada pemerintahan hari ini,” ujarnya.
Willem Frans Ansanay juga mengaku bangga karena Presiden Prabowo memiliki jiwa kenegarawanan tinggi, salah satu contohnya ketika dia memaafkan lawan politik di lingkungan militer.
“Yang kedua, waktu suasana 17 Agustusan kan beliau sama-sama, ketawa-ketawa bersama. Yang ketiga, pak Jokowi dan pak Prabowo sebagai saksi sebagai pernikahan salah satu tokoh saya lupa namanya itu. Dan yang keempat, pak Prabowo juga kadang tidak sabar menjawab sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginannya. Contoh, orang bicara MBG, dia counter. Bicara soal koperasi merah putih, presiden counter. Nah bicara keretakan dia enggak counter, berarti kan slow down, aman tidak ada masalah. Makanya saya yakin komunikasi pak Jokowi dan pak Prabowo masih baik sampai hari ini,” paparnya. ***












