CIAMIS – Polemik terkait keterlibatan pelaku UMKM dan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Desa Cibadak, Kecamatan Banjarsari, akhirnya menemui titik terang. Pihak Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Banjarsari Cibadak 2 menegaskan bahwa sejak awal operasional mereka telah menggandeng pelaku usaha lokal sebagai mitra penyedia kebutuhan dapur MBG.
Penegasan tersebut disampaikan menyusul pernyataan Kepala Desa Cibadak, Margo, yang sebelumnya menyebut dua dapur MBG di wilayahnya belum memberikan dampak nyata bagi pelaku UMKM setempat.
Pengawas Keuangan SPPG Banjarsari Cibadak 2, Hendris, menilai pernyataan tersebut perlu diluruskan agar tidak memicu kesalahpahaman di tengah masyarakat.
“Pernyataan itu harus diluruskan agar tidak berkembang menjadi opini liar yang berpotensi menimbulkan konflik, fitnah, hingga mencoreng nama baik SPPG,” tegas Hendris kepada awak media.
Menurutnya, SPPG Cibadak 2 justru sejak awal hadir dengan semangat pemberdayaan ekonomi desa sesuai arahan Badan Gizi Nasional dalam program MBG.
Ia memaparkan, sebagian besar kebutuhan bahan baku dapur MBG dipasok langsung oleh warga Desa Cibadak dan pelaku UMKM lokal. Mulai dari daging sapi, ayam, telur, produk olahan roti dan abon, hingga bumbu dapur berasal dari usaha masyarakat sekitar.
“Daging sapi dari Bama, ayam dari Supri warga Dusun Cibeureum, telur dari Eva, olahan roti dan abon dari UMKM Dusun Wanayasa, sementara bumbu masakan dari Makmur Dusun Mekarsari. Bahkan sebagian kebutuhan juga disalurkan melalui BUMDes,” jelasnya.
Hendris menyebut, dari total 12 supplier yang bekerja sama dengan SPPG Cibadak 2, sekitar 80 persen berasal dari Desa Cibadak sendiri.
“Kami sangat terbuka terhadap UMKM lokal. Jadi kurang tepat kalau disebut tidak memberi manfaat kepada masyarakat,” tambahnya.
Untuk meredam polemik yang berkembang, pihak SPPG Cibadak 2 bersama jajaran mendatangi Kantor Desa Cibadak pada Senin (18/5/2026) guna melakukan klarifikasi langsung kepada Kepala Desa. Pertemuan itu turut dihadiri Babinsa Koramil Banjarsari, Totok, serta sejumlah awak media.
Dalam forum tersebut, Hendris menegaskan langkah itu dilakukan sebagai bentuk tabayun sekaligus menjaga hubungan baik antar pihak.
“Kalau memang ada kekurangan, tentu akan menjadi bahan evaluasi kami ke depan,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Desa Cibadak, Margo, akhirnya menyampaikan permohonan maaf atas pernyataannya yang memicu polemik.
Ia mengaku ucapan tersebut terlontar secara spontan saat diwawancarai di sela kegiatan peresmian SPPG Banjarsari Cibadak 3.
“Saya mohon maaf atas kejadian ini. Saat itu situasinya spontan dan saya tidak menyangka akan berdampak seperti sekarang,” ungkap Margo.
Margo menjelaskan, pemerintah desa sebenarnya telah menghimpun sekitar 60 pelaku UMKM untuk difasilitasi melalui BUMDes. Namun karena keterbatasan modal, baru empat UMKM yang sejauh ini dapat diakomodasi.
Babinsa Koramil Banjarsari, Totok, memastikan persoalan tersebut telah selesai secara kekeluargaan.
“Pak Kuwu sudah meminta maaf, pihak SPPG juga sudah memberikan klarifikasi. Kedua belah pihak saling memahami dan memaafkan. Persoalan saya anggap sudah clear,” pungkasnya.(Supriatna)












