PANGANDARAN – Ketua DPRD Kabupaten Pangandaran, Asep Noordin, menilai peringatan Hajat Laut 2026 yang bertepatan dengan Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah harus menjadi momentum untuk memperkuat pelestarian budaya, menjaga kelestarian laut, sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat nelayan.
Menurut Asep, tradisi Hajat Laut bukan sekadar agenda budaya tahunan, tetapi merupakan wujud rasa syukur masyarakat pesisir atas rezeki yang diberikan laut sebagai sumber kehidupan sekaligus penopang utama sektor pariwisata di Kabupaten Pangandaran.
“Momentum Hajat Laut menjadi saat yang tepat untuk merefleksikan bagaimana kita menjaga laut sebagai anugerah yang harus diwariskan kepada generasi mendatang,” ujarnya.
Di balik kemeriahan tradisi tersebut, Asep menyoroti persoalan yang hingga kini masih dihadapi para nelayan, yakni belum tertatanya lokasi penyimpanan dan sandar perahu di kawasan Pantai Timur Pangandaran. Menurutnya, kondisi tersebut memerlukan solusi yang mampu mengakomodasi kepentingan nelayan tanpa mengurangi daya tarik kawasan wisata.
Ia mendorong Pemerintah Kabupaten Pangandaran menyusun perencanaan penataan kawasan Pantai Timur secara terpadu agar aktivitas nelayan tetap berjalan optimal, sementara kawasan wisata menjadi lebih tertib, nyaman, dan menarik bagi wisatawan.
Asep menilai potensi alur Sungai Cikidang dan Sungai Cibugel dapat menjadi bagian dari solusi dalam mendukung penataan perahu nelayan. Namun, hal itu harus dibangun melalui sinergi antara pemerintah daerah, organisasi nelayan, pemerintah provinsi, hingga pelaku usaha pariwisata.
Sebagai salah satu Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN), Pangandaran membutuhkan kebijakan yang mampu menyeimbangkan kepentingan ekonomi, pelestarian lingkungan, dan penguatan budaya lokal. Menurutnya, pembangunan pariwisata tidak boleh mengesampingkan kepentingan masyarakat nelayan yang selama ini menjadi bagian dari identitas daerah.
“Kita ingin lahir kebijakan yang mampu menjaga kelestarian alam, meningkatkan kesejahteraan nelayan, memperkuat budaya lokal, sekaligus menjadikan sektor pariwisata semakin maju dan berdaya saing,” tegasnya.
Asep menambahkan, laut dan kawasan pesisir merupakan wajah utama Pangandaran. Karena itu, penataan kawasan harus dilakukan secara berkelanjutan dengan tetap menjaga nilai-nilai budaya dan kearifan lokal agar kemajuan pariwisata dapat berjalan beriringan dengan kesejahteraan masyarakat.(supriatna)












